Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aceh menggelar pelatihan budidaya ayam petelur bagi kader PKS Banda Aceh dan Aceh Besar di kompleks peternakan ayam petelur Muda Maju Farm, Gampong Blang Krueng, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Minggu (10/5/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Milad PKS ke-24 tersebut dihadiri Anggota DPR RI asal Aceh, Ghufran Zainal Abidin, Ketua DPW PKS Aceh Ismunandar, serta Ketua Bidang Pertanian, Peternakan dan Nelayan PKS Aceh Zulfikar Aziz. Sementara materi pelatihan disampaikan langsung oleh Direktur Muda Maju Farm, Achmad Chumaini.
Ketua DPW PKS Aceh, Ismunandar mengatakan, PKS saat ini fokus mendorong penguatan ketahanan pangan masyarakat melalui pemanfaatan lahan rumah tangga, salah satunya dengan budidaya ayam petelur skala kecil.
Menurutnya, pelatihan tersebut diharapkan mampu memotivasi peserta untuk mulai beternak ayam petelur secara mandiri sehingga dapat menjadi sumber protein bagi keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi rumah tangga.
“Setidaknya ini bisa menjadi sumber protein bagi keluarga di rumah. Kami berharap kegiatan ini berkelanjutan, bukan hanya sekadar mengikuti pelatihan dan mendengarkan materi, tetapi juga dipraktikkan di lingkungan masing-masing,” ujar Ismunandar.
Sementara itu, Zulfikar Aziz menjelaskan bahwa peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga diajak melihat langsung proses budidaya ayam petelur di lapangan serta memperoleh pelatihan teknis dari praktisi berpengalaman.
Ia mengapresiasi antusiasme peserta yang mengikuti kegiatan tersebut dan memastikan PKS Aceh akan terus memberikan pendampingan kepada peserta setelah pelatihan selesai.
“Nantinya kegiatan ini akan berlanjut dengan pendampingan kepada peserta agar benar-benar menghasilkan. Minimal setiap peserta memiliki peternakan mini di rumah masing-masing dan PKS Aceh akan terus mendampingi hingga berhasil,” kata Zulfikar.
Dalam kesempatan itu, Direktur Muda Maju Farm, Achmad Chumaini, menyampaikan bahwa usaha budidaya ayam petelur tidak membutuhkan kemampuan khusus, melainkan konsistensi dan ketekunan dalam perawatan.
“Makhluk hidup tergantung bagaimana kita memperlakukannya. Semakin baik diperlakukan, maka semakin baik pula hasil yang didapatkan,” ujarnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa usaha ayam petelur membutuhkan modal besar. Menurutnya, usaha skala rumah tangga dapat dimulai dengan modal terbatas selama ada kemauan dan komitmen untuk menjalankannya.
Achmad menambahkan, sebagian besar bahan pakan ayam sebenarnya tersedia di Aceh, seperti jagung dan dedak, sehingga peluang pengembangan usaha peternakan ayam petelur cukup menjanjikan.
“Sekarang kebutuhan telur ayam sangat tinggi, apalagi dengan adanya dapur MBG yang membutuhkan pasokan telur dalam jumlah besar. Ini menjadi peluang besar bagi masyarakat,” pungkasnya.




